Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Internet, Pendongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan pengguna internet Indonesia mencapai 1.400 persen.

Apa yang baru dalam dunia komunikasi tahun ini? Hanya ada satu jawaban yang pasti benar. Para pengguna, di dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari, akan menginginkan sesuatu yang lebih.

Lebih banyak multimedia, konektivitas yang tak pernah putus, kolaborasi yang lebih mudah dan lebih kaya, merupakan hal yang pasti diinginkan. Dengan dilatarbelakangi harapan-harapan tersebut, berikut beberapa prediksi di pasar dan teknologi yang akan menggerakkan industri, tahun ini.

Kesesuaian dengan aturan mempercepat kolaborasi

Reformasi layanan finansial di Amerika Serikat telah menciptakan persyaratan notifikasi pelanggan dan kesesuaian terhadap peraturan yang lebih ketat.
Skandal penyitaan properti tanpa komunikasi manusiawi (robo-foreclosure) menunjukkan apa yang akan terjadi ketika komunikasi organisasi tak berjalan, menyebabkan perlakuan buruk pada pelanggan, merajalelanya inefisiensi dan protes keras publik dan pemerintahan.
Ini hanyalah dua contoh bagaimana tuntutan akuntabilitas yang makin meningkat akan menggerakkan implementasi proses-proses bisnis yang didukung oleh komunikasi yang memadukan kolaborasi otomasi dan bersifat manusia-ke-manusia untuk memperjelas informasi dan peran dan mengurangi keterlambatan dalam respon maupun pengambilan keputusan.
Tidak lama lagi, regulasi perawatan kesehatan yang baru di AS dapat menciptakan perlunya ketaatan lain.

Konsumerisasi sektor enterprise dipercepat

Pulihnya pertumbuhan ekonomi dan rekrutmen akan membawa masuk lebih banyak orang muda yang terbiasa menggunakan media sosial dan teknologi mobile sejak saat mereka tumbuh ke dalam dunia kerja. Mereka akan datang ke tempat kerja bersenjatakan perangkat, aplikasi dan harapan mereka sendiri mengenai berkomunikasi dan berkolaborasi.
Organisasi atau perusahaan akan mendapati bahwa mereka berebut menunjukkan bahwa mereka mengerti dan dapat menyediakan sumberdaya teknologi untuk memikat dan mempertahankan talenta-talenta terbaik dari Generasi X dan Generasi Y.

Media sosial bermetamorfosa menjadi terintegrasi

Pada 2010, banyak organisasi mengenali pentingnya media sosial yang tak lagi bisa ditolak dan meresponnya dengan menciptakan tim-tim dan prosedur khusus untuk memantau dan terlibat dalam komunikasi social media.

Fase berikutnya dari evolusi media sosial, organisasi atau perusahaan akan mengintegrasikan kanal-kanal sosial ke dalam proses bisnis yang lebih luas dari sentra dukungan dan penjualan mereka. Mereka juga akan mencoba menembus suara yang memenuhi lanskap media sosial dengan cara membuat dan melakukan strategi media sosial yang jelas dan lengkap.

SIP menjadi motor di usaha kecil dan menengah

Beberapa tahun lalu, perusahaan berskala besar telah mulai secara besar-besaran mengurangi biaya dan kompleksitas komunikasi dengan memadukan suara, data dan video menggunakan teknologi Session Initiation Protocol (SIP). Akan tetapi bagi UKM, biaya SIP lebih besar dibandingkan manfaatnya.
Saat ini, itu tidak lagi berlaku. Sistem kantor Internet Protocol (IP) baru telah menjangkau pasar yang memperluas kesederhanaan, fleksibilitas dan efisiensi biaya dari SIP ke usaha-usaha berskala kecil. Beberapa di antara mereka akan menemukan cara-cara kreatif baru untuk menggunakan teknologi transformatif tersebut.

Komunikasi merambah ke awan

Layanan berbasis cloud computing untuk enterprise dengan cepat berkembang di luar proses dan manajemen dokumen back-office ke arah fungsi-fungsi bisnis yang kritikal, berhadapan dengan pelanggan.
Para pelaksana contact center mulai mengandalkan efisiensi dan fleksibilitas yang ditawarkan oleh teknologi software sebagai servis (SaaS – software as a service), infrastruktur sebagai servis (IaaS) dan platform sebagai servis (PaaS).

Virtualisasi mengubah hubungan desktop-server

Infrastruktur server-virtual sudah menjadi hal umum dalam organisasi masa kini. Ini menyebabkan alokasi dan penyediaan sumberdaya server menjadi transparan bagi para pengguna akhir. Tren yang lebih baru – virtualisasi desktop — mulai bergulir sejalan dengan makin dikenalinya manfaat biaya memusatkan manajemen software, mengganti komputer berhard-drive dengan terminal thin-client dan memindahkan penyimpanan data ke awan oleh organisasi atau perusahaan.
Mungkin tak lama lagi akan tiba masanya ketika satu-satunya peangkat yang dimiliki pengguna adalah sebuah kartu USB dan headset Bluetooth.

Perangkat pengguna menjadi terkonsolidasi

Banyak pekerja saat ini punya dua ponsel, klien-klien softphone di PC desktop dan laptop-nya, dan handset dan speakerphone di meja kerjanya. Untuk memerangi penyebaran perangkat dan biaya yang terkait, organisasi atau perusahaan akan mendorong para pekerjanya untuk mengonsolidasikan aktivitas dalam satu atau dua unit perangkat, misalnya sebuah ponsel pintar dan laptop, atau sebuah unit desktop all-in-one yang memadukan fungsi-fungsi video, suara, kolaborasi dan PC.

Pemakaian lebih berarti dibandingkan pemasangan

Setiap dolar yang dikeluarkan untuk TI sangat berharga dan harus memberikan nilai bisnis. Bahkan teknologi yang paling menjanjikan bisa gagal jika orang tidak mau atau tidak dapat menggunakannya.
Penerimaan pengguna, bukan penyebarannya, akan menjadi matriks yang dominan dalam implementasi TI. Adaptasi harus menjadi pertimbangan yang menentukan sebuah proyek dan bukannya sekadar memikirkan apa yang dilakukan pasca-pemasangan. Persiapan pengguna haruslah bukan hanya “melatih para pelatih.”
Organisasi dapat meningkatkan pemakaian dengan cara memahami para pengguna dan membagi-bagi mereka berdasarkan konsep dan kriteria pemakaian yang paling penting.

Dukungan dan komunikasi pengguna diperbaiki

Perusahaan berusaha sungguh-sungguh untuk meningkatkan dukungan pelanggan, menambahkan saluran media sosial, menawarkan live chat, meningkatkan waktu respons dan banyak lagi. Kendati ada begitu banyak fokus pada pelanggan, para pengguna di dalam enterprise seringkali dikecewakan ketika berurusan dengan bagian pendukung.

Perusahaan akan semakin banyak mengambil inovasi-inovasi yang mereka sajikan kepada para pelanggannya kembali ke in house untuk mendukung para pengguna mereka. Para pencipta akan melakukan lebih dari itu – misalnya, memanfaatkan IT help desk sebagai dasar uji bagi konsep-konsep contact center generasi berikut yang pada akhirnya akan disajikan kepada para pelanggan.

Teknologi komunikasi bantu isi kesenjangan keterampilan

Beberapa industri kekurangan orang yang memiliki cukup kualifikasi untuk mengisi posisi-posisi kunci. Contoh, hanya ada sedikit perawat yang mengisi kebutuhan perawatan kesehatan. Bisnis akan semakin menggantungkan diri pada perangkat komunikasi dan kolaborasi untuk meningkatkan produktivitas staf dan memerangi kelangkaan tersebut.
Infrastruktur, aplikasi dan perangkat yang mendukung mobilitas, kolaborasi pekerja dan mengotomasikan aktivitas-aktivitas manual yang memakan waktu dan tidak memiliki nilai tambah akan semakin kokoh kehadirannya pada 2011.

Sesuai untuk tujuan

Selama beberapa tahun terakhir, penyebaran teknologi kolaborasi di kalangan enterprise agak terhambat oleh besarnya investasi, beberapa keterbatasan dalam interoperasi jaringan dan perangkat, dan keengganan pengguna untuk belajar atau menerima kemampuan baru. Masa-masa itu telah berakhir.
Di jaman “sesuai-untuk-tujuan,” para vendor telah merancang kemampuan kolaborasi yang benar-benar menjembatani kesenjangan tersebut dengan cara membuat para pengguna dan staf TI yang mendukungnya merasa mudah.
Di masa depan, perangkat kolaborasi sesuai-untuk-tujuan akan dicirikan oleh investasi awal yang lebih rendah, peningkatan integrasi dengan jaringan dan perangkat yang sudah ada, dan penggunaan yang jauh lebih sederhana. Evolusi ini akan mengubah arah adopsi teknologi karena pengeluaran dan juga kepedulian pengguna turun secara dramatis.
Berapa banyak dari prediksi di atas yang akan terealisir? Hanya waktu yang akan menjawabnya. Kita juga akan tertarik untuk melihat tren-tren apa yang bahkan tidak terekam dalam radar hari ini yang muncul di tahun 2011. Mari kita lihat apa yang akan terjadi.

Endang Rachmawati, Country Director Avaya Indonesia (vivanews)

Belajar Dari Revolusi Di Mesir



Sejarah membuktikan lagi, apa itu ? Ya mundurnya Husni Mubarok dari tahta kekuasaannya, hari Jum’at 11 Februari 2011 setelah didemo selama 18 hari berturut-turut, rupanya Mubarok bandel Mengapa akhirnya Mubarok mundur?

Apa lagi kalau Mubarok tidak belajar dari Sejarah! Dia tidak belajar dari sejarah kejatuhan Soeharto, Sadam Husein, Ferdinan Marcos, Reza Fahlevi, Hitler, Musolini dan berbagai diktator lainnya di dunia, baik dalam sejarah modern, maupun sejarah kuno seperti jatuhnya Fir’aun dan Namrud!

Manusia yang tidak mau belajar dari masa lalu atau tak mau belajar dari sejarah, sudah saya tulis pada dua judul di atas, akan mengalami kehancuran! Mengapa? Ya ibarat orang lain sudah jatuh, orang yang tak mau belajar dari sejarah tadi, jatuh pada tempat yang sama!

Para diktator tadi tidak mau belajar pada kejatuhan dikatator sebelumnya, padahal mereka tahu, bahwa setiap pemerintahan apapun bentuknya entah parlementer atau presidensial, bentuk negaranya kerajaan, kesultanan dan lain sebagianya bila sang penguasa bertindak otoriter, satu saat baik cepat atau lambat akan jatuh dan dihancurkan oleh rakyatnya sendiri!

Ini sangat berharga dipelajari untuk seluruh orang yang sekarang sedang menjadi pemerintah, baik di Indonesia ataupun di negara-negara lain, jangan mentang-mentang lagi berkuasa lalu bertindak semaunya, otoriter! Bahkan sudah mempersiapkan penggantinya dari keluarganya sendiri, entah istri, anak atau orang-orang terdekat dengannya! Padahal negara ini bukan miliknya, bukan milik keluarganya, bukan milik keluarganya, bukan milik partainya, tapi milik seluruh rakyat!

Coba lihat, Soeharto juga jatuh ketika mempersiapkan anaknya menjadi penggantinya kelak di saat itu, caranya dengan menjadikannya Menteri social dulu, seakan tak ada lagi orang lain yang pantas menjadi menteri social, kecuali anaknya!

Skenarionya bila anaknya berhasil di kekementrian social, satu langkah lagi menjadi presiden, kalau Soeharto turun! Namun apa lacur? Kekuasaan yang telah mencapai 30 tahun lebih dan masih juga tidak puas, masih ingin terus menjadi presiden sampai mati! Akhirnya rakyat turun tangan dengan demontrasi besar-besaran, akhirnya turunlah sang diktator dari kekuasaannya tanggal 21 Mei 1998! Maka lahirlah era reformasi.

Begitu juga dengan Husni Mubarok, hancur dan kemudian turun dari kekuasaannya setelah 18 hari rakyat terus menerus melakukan demontarsi agar Mubarok turun, turun dan turun dan kekuasaanya, turun jadi presiden yang telah digenggamnya selam 30 tahun!

Mengapa Mubarok akhirnya turun? Tak lain karena dia sudah mempersiapkan anaknya, Gamal Mubarok, menjadi penggantinya bila dia turun jadi presiden di tahun 2011 ini. Seakan Mesir itu miliknya, milik keluarganya, milik dinastinya! Padahal Mesir bukan kerajaan.

Tapi memang seorang penguasa yang sudah bertahun-tahun bertahta cenderung akan otoriter! Dan lebih repot lagi biasanya korup! Agar hasil korupsinya tak dibongkar oleh penggantinya saat dia turun tahta, maka dipersiapkan anaknya menjadi penggantinya apapun caranya! Begitulah pola pikir para dikatator dalam mempertahankan kekuasaan dan kekayaannya. Dasar manusia rakus! Harta sudah melimpah, kekuasaan sudah puluhan tahun, masih saja kurang, kurang dan kurang!

Diktator dimanapun sama, mengambil sebanyak-banyak harta rakyat dengan cara menekan rakyat sedemikian rupa, agar takut padanya! Maka biasanya siapapun yang menjadi penghalang akan disingkirkan, siapapun yang kritis akan dihancurkan, siapapun yang membantah akan dibantah, siapapun yang tak jera akan dipenjara.

Begitulah para dictator menjalankan kekuasaannya. Namun dia lupa pada doa orang-orang yang teraniaya. Rakyat yang teraniaya mungkin tak berani berteriak dan melawan pengauasa yang diktator, namun rakyat punya doa!

Dan perlu diketahui bersama doanya orang yang teraniaya langsung didengar olehNya, walau memang memakan waktu, baik cepat atau lambat doa itu akan dikabulkanNya. Nah buktinya tertera di hadapan kita, Husni Mubarok akhirnya mundur! Oya Mubarok lupa akan diktator yang mati dinegaranya, siapa?

Reza Pahlevi, syah Iran, yang berhasil digulingkan oleh revolusi Islam Iran pimpinan Ayatullah Khomaini! Mubarok lupa, syah iran itu digulingkan juga karena kediktatorannya dan kabur dari negaranya, dan tidak diterima dikuburkan di negaranya sendiri! Akhirnya mati dan dikuburkan dipengasingan, Mesir!

Nah kalau Husni Mubarok belajar dari terusirnya syah Iran yang lari ke negaranya dan mati di negaranya, mestinya dia turun bukan setelah 30 tahun berkuasa, itupun turun karena dipaksa!

Ya mestinya kalu mau terhormat turun sebelum rakyat sendiri muak dan menurunkannya! Mubarok juga lupa pada kejatuhan Ferdinand Marcor, sang diktator dari Filipina, yang juga digulingkan dengan kekuatan rakyat” People Power” dibawah pimpinan Aquino, seorang ibu rumah tangga biasa!

Hai para penguasa belajarlah dari sejarah pengausa lain yang sudah jatuh dan terjungkal oleh rakyatnya sendiri yang ditekan, ditindas, diintimidasi! Ibarat semut yang dinjak tarsus menerus, akhirnya semut kecil, namun banyak, akhirnya berani melawan sang gajah!

Gajahpun terguling dan mati diserbu semut kecil yang banyak! Begitu kira-kira ibarat rakyat yang marah, rakyat yang semut kecil, tapi banyak dapat mengalahkan sang gajah yang besar! Hai para “gajah” hawai para penguasa ingat itu, bila memerintah, sejahterakan rakyatmu, bukan membuat rakyatmu sengsara! Rakyat yang sengsara dan tertekan, ibarat semut, yang satu saat nanti bisa saja bergerak dan bersatu melawan penguasa yang korup!

Namun jangan takut, selama menjadi penguasa yang menjalankan amanah sebaik-baiknya, maka rakyat bukan akan menurunkan, bahkan mendukung! Apa lagi kalau punya niat dan tindakan yang bagus mebrantas korupsi sampai ke akar-akarnya! Mebrantas korupsi yang benar tegas dan berani, bahkan sampai hukuman mati sekalipun, pasti didukung rakyat.

Karena bagaimanpun koruptor factor utama kesengsaraan rakyat! Faktor yang membuat rakyat dimiskinkan, sementara sang koruptor semakin kaya, kaya dan kaya. Lihat saja kasus gayus tambunan, kalau saja tak tertangkap, entah berapa trilyunan lagi uang rakyat yang dikurasnya.

Sukur si gayus udah tertangkap, namun entah hartanya disita seluruh atau sebagiannya, saya tak tahu. Namun yang jelas gayus masih “teri”, sang koruptor yang “kakap-kakap” belum tertangkap!

Pemerintah yang berani menindak sang koruptor akan didukung oleh rakyat, siapapun orangnya, dimanapun negaranya. Lihat Cina, walaupun negaranya beridiologi komunis, namun pemerintah mereka berani dan tegas menghukum mati para koruptornya! Apa hasilnya?

Cina sekarang dalm segi ekonomi sudah mengalahkan Jepang! Cina punya cadangan devisa trilyunan Dollar! Itu betkat berani menindak koruptor dengan hukuman mati! Jadi siapapun orangnya akan takut untuk mencoba-coba korupsi. Lihat itu, Cina negara komunis, yang sebagian besar warganya tak percaya pada Tuhan, namun berani menindak koruptor dengan dengan hukuman mati! Dan rakyat mereka sejahtera , tak terdengar kemiskinan dan kelaparan di Cina! Padahal Cina punya penduduk terbesar di dunia, 1,3 milyar!

Jadi mengapa pemerintah kita takut-takut dan ragu-ragu menindak para koruptor! Ayo “babat” para koruptor itu sampai ke akar-akarnya, yakinlah pemerintah pasti di dukung oleh rakyat jika berani menghukum para koruptor dengan hukuman maksimal.

Jangan takut, rakyat akan mendukung pemerintahan yang bersih dan berwibawa, pemerintahan yang mensejahterakan rakyat akan di dukung rakyat, namun sebaliknya pemerintahan yang mensengsarakan rakyat, siap-siap akan diturunkan rakyat! Itu bukan ancaman, itu sudah menjadi sejarah dan tercatat dalam sejarah modern maupun sejarah kuno.

Maka mari sekali lagi perhatikan “nasehat” dari sejarah, mari perhatikan dan belajar dari sejarah, sejarah dengan arifnya telah memberikan pelajaran yang mengabadi, karena bila sesuatu sudah menjadi sejarah, maka akan mengabadi sampai kimat tiba nanti!

Itulah maka saya sering menulis, belajarlah dari sejarah, ingat sejarah dan jangan lupakan sejarah. Orang yang biasa belajar, ingat dan tak melupakan sejarah, biasanya menjadi lebih arif, lebih bijak, lebih memperhatikan akibat tindakan-tindakannya sekarang.

Apapun namanya perbuatan sekarang akan berakibat pada masa datang, dan sekarang akan menjadi masa lalu, bila waktunya sudah lewat! Tiga dimensi waktu yaitu, masa lalu, masa kini dan masa akan datang akan terus berputar. Masa lalu telah lewat, masa sekarang sedang dijalani dan masa akan datang sedang menanti.

Belajar dari tiga dimensi waktulah, maka nabi Muhammad saw, telah mengingatkan manusia 14 abad yang lalu, yang nasehatnya terus relepan dari masa ke masa yang bunyinya:”Beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, rugilah orang yang hari ini sama dengan yang kemarin dan celakalah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin!” Pesan nabi begitu gamblang dan jelas, tiga dimensi waktu tercangkup di dalamnya dan dengan katagori yang begitu jelas!

Manusia beruntung adalah manusia yang lebih baik hari ini dibandingakan kemarin, manusia merugi kalau hari ini sama dengan kemarin dan manusia menjadi celaka kalau hari ini lebih buruk dari kemarin!

Bayangkan nabi sudah mengingatkan manusia sejak 14 abad lalu, namun nasehat beliau terus berlaku atau sesuai dengan jaman, tak lapuk kena hujan, tak lekang kena panas!
Lalu apa yang bisa kita pelajari dari jatuhnya para dikatator dunia? Banyak, diantaranya:

Pertama, tak ada kekuasaan yang abadi! Suka atau tak suka, mau atau dipaksa, kekuasaan akan lenyap dari tangan seseorang, siapapun dia, dimanapun adanya. Yang abadi hanya kekuasaan Allah SWT, Dialah yang mempunyai kekuasaan yang hakiki, tak tertandingi oleh siapapun.

Makanya ketika di padang masyar nanti, setelah kiamat, para penguasa ditanya, mana penguasa itu? Mana raja itu? Mana presiden itu? Tak ada yang jawab, semuanya tertunduk lesu, para diktator ketakutan dan setanpun tertawa!

Kedua, para penguasa harus amanah, jangan mentang-metang sedang berkuasa, sedang”di atas”, sedang jadi pejabat, sedang jadi penguasa di berbagai sektor, lingkungan, pemerintahan, lembaga dan sebagainya, lalu bertindak sewenang-wenang! Seakan lembaga itu punya pribadi, seakan dia akan menjadi pejabat selamanya, seakan dia akan memerintah selamanya, seakan bawah bukan manusia, tapi budak-budak yang bisa dimarahi sesukanya, semaunya, dimana saja, kapan saja dan siapa saja, tak melihat betapa malunya orang sedang dimarahi di depan umum!

Ketiga, siapapun yang sedang memerintah suatu negara, jangan sampai lupa, kalau rakyat tak suka pada pemerintah bukan berarti membenci negara! Pemerintah dan negara berbeda! Pemerintah bisa turun naik, bisa berganti-ganti, tapi negara diusahakan agar tetap utuh!

Jadi kalau rakyat mengkritik pemerintah bukan berarti anti negara, anti pemerintah Mesir, bukan berarti anti negara Mesir! Anti MUbarok, bukan berari anti Mesir! Anti pemerintah Indonesia kalau dinilai bobrok, bukan berarti anti Indonesia! Begitu juga anti pajabat negara yang koruptor, bukan berarti anti pada lembaganya!

Keempat, para pejabat, siapapun dia harus ingat, jabatan itu amanah, bukan alat untuk mengeruk sebanyak-banyaknya keuangan negara, dengan berbagai alasan memanipulasi. Pejabat negara belum tentu pemimpin negara, para pemimpin negara, belum tentu negarawan!

Dan setiap pejabat yang duduk dilembaga tertentu, bisa jadi bukan pemimpin, tapi badut-badut. Walupun lembaganya terhormat, belum tentu pejabatnya otomatis terhormat, apa lagi mulia! Terhormat atau mulianya seorang pejabat bisa dilihat dari tingkah laku dan perbuatannya sehari-hari, bisa saja sang pejabat berdasi tapi hatinya basi!

Kelima, dimanapun pejabat yang otoriter, kejam, mudah mencaci maki bawahannya tak kenal waktu dan situasi serta kondisi, akan terkena “kutukan” yang dipimpinnya, akan terkena doanya orang yang teraniaya! Yang biasanya hanya tinggal menunggu kehancurannya, cepat atau lambat pasti pejabat yang otoriter akan binasa, ya kalau tidak di dunia ya di akherat!

Keenam, kejadian di Mesir bisa terjadi di Indonesia dan memang sudah terjadi di jaman lengsernya Soeharto, namun bisa akan berulang lagi, kalau pemerintahan yang ada sekarang tidak belajar dari penyebab kejatuhan presiden Mesir dan lengsernya Soeharto dulu. Kejadian di Mesir bisa terjadi di Indonesia, kalau pemerintah sekarang hanya bisa janji-janji untuk mensejahterakan rakyat.

Ketujuh, revolusi di Mesir sudah berhasil menurunkan Husni Mubarok dari kursi kepresidenan, kediktatorannya, terutama yang selalu memusihi Ikhwanul Muslimin, sudah tamat! Indonesiapun bisa terjadi seperti di Mesir, kalau pemerintah yang sekarang misalnya memusihi organisasi yang benar-benar membela Islam, rakyat yang mayoritas Islam akan bergerak bila Islam menjadi "sasaran tembak!"

Nah itulah hikmah dari kejatuhan para diktator dunia! Loh kok diktator dipelajari atau kok belajar dari kejatuhan dikatator?

Ingat, apapun yang terjadi di alam semesta tak ada yang sia-sia, semuanya punya hikmah, semuanya bisa diambil pelajaran, bagi yang mau mempelajarinya dan bagi yang mau berpikir, itukan tantangan Allah SWT pada hambaNya!

Ayo pikirkan, ayo pelajari, ayo belajar dari semua ciptaanNya, Dia menciptakan sesuatu bukan main-main, ”Tuhan tidak bermain dadu!” kata Albert Einstein.

sumber : eramuslim Oleh Syaripudin Zuhri

10 Kejanggalan di Balik Crop Circle Sleman



Jakarta - Kisah seputar Crop Circles (CC) masih berlanjut dengan pro kontra, dan semua tentu ada jawaban yang juga berupa pro-kontra:

1. Ada penduduk sekitar yang memberi kesaksian mendengar suara gemuruh. Coba simak logika saya ini: Mengapa kesaksian suara tersebut hanya oleh satu dua orang?

Ingat bahwa kejadian pada area sawah di perkampungan yang terbilang tidak sepi penduduk. Jadi bila ada suara gemuruh di lokasi pasti akan banyak yang mendengarnya, bukan hanya satu dua orang.

Apalagi ini terjadi di malam hari yang logikanya pasti sangat hening, suara motor di kejauhan saja bisa terdengar apalagi gemuruh UFO dengan diameter sebesar itu.

2. Ada yang mengakui melihat CC tersebut setelah angin puting beliung, tapi analisa telematika pada gambar seputar CC tidak ada ciri yang mencerminkan bekas angin puting beliung.

3. Apabila CC dilakukan oleh Alien dan ternyata tidak pernah mendarat (berdasarkan teori 1 dan 2 di atas) berarti satu-satunya kemungkinan (kalau ini dianggap dilakukan oleh Alien) adalah pencitraan gambar terhadap padi tersebut dilakukan dari jauh di atas sana (via laser dan sejenis). Tetapi itu hanya mungkin bila tanaman yang rubuh atau tanah di bawahnya gosong atau setidaknya ada sedikit kehangusan.

Ternyata atas bukti lapangan (oleh rekan saya yang ada di sana, dia kabari saya via Facebook) tidak ada perbedaan suhu antara tanaman yang rubuh dengan yang berdiri.

4. Bukti secara Telematika lainnya, dari berbagai tayangan video dan gambar jelas terlihat rubuhnya tanaman tersebut secara tertekuk ke satu arah. Bukan tertekan dari atas, padahal selayaknya kalau terinjak benda dari arah atas pasti rubuh tidak beraturan dan patah-patah.

5. Dari bukti video-video di YouTube yang saya sharing kemarin jelas terlihat begitu mudah membuat CC, perangkatnya pun sangat amat sederhana (bilah kayu, tali, tiang pancang dan meteran panjang, tidak lebih dari 4 alat itu sudah cukup).

CC buatan manusia dengan alat sederhana ini gampang dicirikan yaitu hasilnya yang tidak jauh dari:

a. Unsur lingkaran (mudah dibuat seperti membuat lingkaran pakai Jangka)

b. Unsur garis (lebih mudah lagi karena cukup merentang tali lalu menginjak padi sejajar tali)

c. Unsur segitiga (masih mudah, toh garis adalah bagian dari segitiga bukan?)

d. Unsur busur (mudah juga, toh itu bagian dari lingkaran bukan?)

6. Dalam hal bentuknya, CC di Sleman konon suatu bentuk Muladhara Chakra, bila itu benar, kalau kita perhatikan ciri Muladhara Chakra ternyata semua terdiri dari bentuk yang saya utarakan pada butir 4, dengan demikian menggunakan cara dan alat di atas mudah membuatnya bukan?

7. Ada yang menyanggah analisa saya --thanks for that, katanya untuk membuat gambar di tengah sawah bagaimana pelaku masuk ke tengah tanpa merusak sawahnya? Jawaban saya: Coba perhatikan dengan seksama gambar tersebut, antara satu obyek dengan yang lain pasti ada pematang yang menyambungnya bukan?

Saat tidak ingin merusak areal maka Pelaku mungkin saja berpindah tempat melalui pematang tersebut (itu yang dilakukan pada contoh video yang sudah saya berikan sebelum ini). Lagi pula bila kita melangkah bukan dengan cara menginjak padi maka padi-padi itu tidak akan patah.

8. Beberapa pihak berlogika bila benar oleh manusia, bagaimana membuat CC hanya dalam satu malam dan di malam hari? Teorinya seperti berikut:

a. Dengan bentuk yang sederhana, tentu mudah apabila dilakukan oleh sekitar minimal 4 orang.

b. Ingat bahwa desa sangat sedikit penerang, itu justru sangat menguntungkan dalam pekerjaan ini karena dengan gelap malam di tempat terbuka maka dalam beberapa menit saja mata kita sudah bisa menyesuaikan dengan gelapnya malam sehingga bisa melihat dalam gelap dan tanpa senter. Saya tahu ini saat latihan pramuka waktu muda dulu.

c. Komunikasi antar pelaku bisa pakai handy talky atau ponsel bukan?

d. Yang terpenting dalam menggambar dengan pola tersebut adalah kita dapat menentukan lokasi secara matematis.

e. Gambar tersebut hanya 1 dimensi jadi tidak perlu repot melakukannya bukan? Tidak perlu melukis. Hanya menginjak sudah lebih dari cukup.

f. Tentu perlu adanya koordinasi, setidaknya latihan kecil atau briefing untuk kegiatan tersebut.

9. Satu yang dianggap menarik di Sleman adalah kemampuan membentuk gambar sedemikian. Tapi tanpa mengecilkan arti para seniman yang telah melakukannya di Sleman ini saya telah melakukan pencarian di internet dan menemukan seni yang lebih mempesona, yaitu petani Jepang bisa membuat lukisan pada hamparan padi dengan ukuran yang berkali lipat luas yang di Sleman.

Selain itu dibuat empat warna (hijau, kuning, putih dan coklat), semua itu bukan di cat tapi memang jenis tanaman tersebut pada dasarnya memiliki 4 warna. Hebatnya gambar tersebut tidak dengan unsur bentukan dasar, melainkan benar-benar bagai lukisan profesional.

Contohnya seperti link berikut ini:

http://www.funforever.net/archives/rice-field-art/

http://www.hoax-slayer.com/japanese-rice-crop-art.shtml


Atau anda bisa liat videonya: http://www.youtube.com/watch?v=G0dYMOE1iTQ&feature=related

10. Bukti lain, menurut para pengamat UFO pada beberapa bekas CC yang bekas UFO harusnya ada sisa radioaktif, saya tidak dapat mengomentari hal ini.

Saya tidak pernah melihat UFO (hanya membaca banyak referensi) dan saya juga tidak tahu apakah pesawat UFO bisa mendarat secara mengendap-endap (tanpa kedengaran penduduk) dan berdiri di tanah lembut lalu meninggalkannya dengan sisa radioaktif.

Wallahualam. Tapi dengan analisa ini akan semakin membuktikan fakta bahwa jejak tersebut lebih mungkin dilakukan oleh manusia.

Terlepas dari benar tidaknya jejak tersebut dibuat manusia atau mahluk luar angkasa kini sudah tidak terlalu penting lagi. Karena banyak fakta lebih membuktikan bahwa ini pekerjaan manusia. Untuk itu selebihnya mari kita apresiasi pekerjaan tersebut sebagai seni instalasi yang indah. Kenyataannya demikian bukan?


sumber : Abimanyu Wachjoewidajat - detikinet

Tentang Penulis: Abimanyu Wachjoewidajat adalah dosen Technopreneurship Fakultas Sains & Teknologi UIN Syarif Hidayatullah.

Tanggapan Tokoh-Tokoh tentang Kebijakan Bail Out Bank Century

JAKARTA (voa-islam.com) - Soal megaskandal dana talangan (bailout) Bank Century yang menelan keuangan negara 6,7 triliun yang melibatkan Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani, Presiden SBY berseteru argumen dengan mantan ketua MPR Amien Rais dan para tokoh nasional. Menurut SBY, pengambil kebijakan bailout Bank Century itu tidak bisa dipidanakan karena sudah sesuai aturan. Tapi menurut Amien, pendapat itu goblog luar biasa karena membuka pintu diktator.

Kasus Bank Century yang melibatkan ”anak buahnya,” Boediono dan Sri Mulyani, memaksa SBY untuk angkat bicara. Menurutnya, pengambil kebijakan bailout Bank Century telah bekerja berdasar kewenangan dan aturan yang berlaku. Mereka dan kebijakannya tidak bisa dipidanakan bila kebijakan di masa lalu yang diambil berdasar kondisi berlaku pada saat itu tidak terbukti mengandung unsur kriminal.

"Perdebatannya sekarang, apakah kebijakan itu bisa dipidanakan? Apakah kebijakan itu (bailout Bank Century) bisa dikriminalkan? Saya mengatakan, the real policy tidak mungkin dipidanakan, " kata Presiden SBY saat berpidato di Mabes TNI Cilangkap, Jaktim, Senin (25/1/2010).

SBY: Perdebatannya sekarang, apakah kebijakan itu (bailout Bank Century) bisa dipidanakan? Apakah kebijakan itu bisa dikriminalkan? Saya mengatakan, the real policy tidak mungkin dipidanakan. ..

Namun, lanjut dia, yang bisa dipidana adalah implementasi kebijakan, apakah ada hukum yang dilanggar. "Harus jelas, sebab kalau kebijakan dipidanakan, tak ada ada yang berani ambil keputusan, yang jalankan sesuatu, karena bisa dipidanakan, " tambah SBY.

"Sebab kalau kebijakan itu setiap saat bisa dipidanakan, tidak akan ada pejabat negara yang berani mengambil keputusan karena bisa diadili suatu saat kelak," sambung SBY berargumen.

Pernyataan Presiden SBY bahwa kebijakan pemerintah seperti pemberian dana talangan (bailout) kepada Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun tidak bisa dipidanakan, mendapat reaksi keras dari berbagai tokoh, karena dinilai menyesatkan dan terkesan menutup-nutupi tindak pelanggaran hukum. Padahal, kebijakan pemerintah jelas bisa dipidanakan kalau terbukti melanggar hukum.

Mantan Ketua MPR Amien Rais mengkritik keras Presiden SBY. Menurut Amien, pernyataan itu tidak bisa diterima akal.

"Saya merasa agak aneh, tapi saya merasa banyak masyarakat yang percaya dengan pola pikir itu. Kebijakan kok tidak bisa diadili. Ini benar-benar kegoblokan yang luar biasa," kata Amien di FX Plaza, Jl Sudirman, Jakarta, Kamis (28/1/2010).

AMIEN: Kebijakan kok tidak bisa diadili. Ini benar-benar kegoblokan yang luar biasa...

Amien menjelaskan, kalau kebijakan itu koruptif semestinya bisa dibawa ke ranah hukum untuk diproses.

"Kalau kebijakan tidak bisa diadili, itu sama saja dengan diktator," tambahnya

Amien lalu memberi contoh dengan kebijakan, terkait pengelolaan sumber daya alam yang ugal-ugalan. "Masa tidak bisa diadili," tutupnya.

Sebelumnya, kritik keras terhadap pernyataan SBY diutarakan oleh banyak tokoh, di antaranya: Wakil Ketua Panitia Khusus (Pansus) DPR tentang Angket Bank Century Gayus Lumbuun, anggota Pansus Angket Bank Century dari Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo, pengamat ekonomi perbankan Ichsanuddin Noorsy, pakar hukum Adnan Buyung Nasution, dan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD secara terpisah kepada wartawan di Jakarta, Senin (25/1).

Menurut Mahfud MD, kebijakan terkait pengucuran dana talangan ke Bank Century bisa saja dipidanakan apabila terdapat sejumlah unsur kriminalitas dalam pelaksanaan kebijakan tersebut.

"Pelaksanaan suatu kebijakan jika ditemukan unsur kriminalitasnya, seperti korupsi dan kolusi, bisa dipidanakan, " katanya.

Mahfud menekankan, isi kebijakan itu sendiri tidak dapat disalahkan karena merupakan hasil pengambilan keputusan yang sifatnya pilihan berdasarkan kewenangan seseorang yang memang berhak membuat kebijakan. Namun, apabila terjadi penyalahgunaan wewenang dalam pelaksanaan kebijakan, itu bisa dipidanakan.

Mahfud MD dan Gayus Lumbuun: Kebijakan terkait pengucuran dana talangan ke Bank Century bisa saja dipidanakan apabila terdapat sejumlah unsur kriminalitas. ..

Gayus Lumbuun juga menyatakan, kebijakan pemerintah bisa dipidanakan kalau mengandung unsur kriminal. "Secara hukum, kalau menyimpang, kebijakan bisa dipersoalkan. Undang-undangnya jelas," ujarnya.

Gayus kemudian mengutip Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Praktik KKN. Di situ disebutkan, kebijakan (pemerintah) yang menguntungkan pihak lain dengan melanggar kaidah hukum bisa dipidanakan.

"Juga KUHP menyatakan: Publik melanggar hukum jadi kriminal," katanya. Menurut Gayus, dua alasan itu cukup menjawab bahwa kebijakan bisa dimasalahkan. Pelanggaran- pelanggaran yang tidak bisa dipersoalkan di pengadilan, katanya, itu bukan kebijakan.

"Menurut surat edaran Mahkamah Agung (MA), kebijaksanaan tidak bisa dipersoalkan di pengadilan. Tapi kebijaksanaan itu harus memenuhi empat koridor, yakni motivasi; kompetensi; tidak untuk kepentingan diri sendiri, kelompok, atau orang lain; dan dapat dipertanggungjawabk an di hadapan hukum," tutur Gayus.

Dia menekankan, pembentukan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) adalah salah satu bentuk kebijakan pemerintah. Untuk menjalankan kebijakan KSSK, menurut Gayus, ada peraturan Bank Indonesia (BI) yang dibatalkan. "Nanti kita lihat apakah kasus Bank Century ini kebijakan atau kebijaksanaan, " ujarnya.

Mengacu pada empat koridor sesuai surat edaran MA, Gayus menyebutkan, kebijakan pengucuran dana talangan untuk Bank Century dari segi motivasi bisa untuk kepentingan bangsa dan negara. Demikian pula dari segi kompetensi, KSSK memiliki syarat.

"Kebijakan itu juga mungkin tidak untuk kepentingan diri sendiri, tapi untuk kepentingan pihak lain. Yaitu, pemegang saham diuntungkan. Apakah dapat dipertanggungjawabk an di hadapan hukum? " kata Gayus.

Sementara itu, Bambang Soesatyo mengatakan, pernyataan Presiden bahwa kebijakan pengucuran dana talangan ke Bank Century tidak bisa dikriminalisasi merupakan upaya menutup-nutupi moral hazard tindakan bailout.

...pernyataan Presiden bahwa kebijakan pengucuran dana talangan ke Bank Century tidak bisa dikriminalisasi merupakan upaya menutup-nutupi moral hazard tindakan bailout...

"Pansus hanya memfokuskan penyelidikan pada kejanggalan dan indikasi pelanggaran pidana. Sejak awal Pansus tidak pernah bertendensi atau berniat mengkriminalisasi apa pun kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan bailout untuk Bank Century," kata Bambang.

Menurut dia, sejak awal DPR berfokus pada kejanggalan dan irasionalitas proses pengucuran dana talangan. Kalau kemudian ditemukan pelanggaran hukum atau pidana, katanya, Pansus akan menyerahkannya kepada lembaga hukum yang berwenang.

"Sejak diinisiasi hingga proses penyelidikan sekarang, masyarakat bisa melihat bahwa penyelidikan Pansus fokus pada indikasi moral hazard," ujar Bambang.

Penggalian data dan dokumen yang berkaitan dengan kebijakan bailout Bank Century, menurut Bambang, diperlukan sebagai latar belakang untuk menemukan bukti moral hazard di balik pelaksanaan bailout.

Bagi Adnan Buyung Nasution, kebijakan yang disertai dengan latar belakang, motif, dan tujuan tertentu, seperti kriminal, dapat dipidanakan. "Kalau kebijakan itu melanggar pidana, ya jelas bisa dipidanakan, " tuturnya.

Menurut mantan anggota Wantimpres ini, kebijakan pemerintah dalam kasus Bank Century harus dibahas mendalam, tidak bisa terburu-buru dikatakan tidak bisa dipidanakan. "Pansus bisa melihat indikasi ada-tidaknya pelanggaran hukum untuk kemudian diserahkan kepada aparat penegak hukum," katanya.

...kasus Bank Century ini penuh unsur tindak pidana korupsi. Kalau ada yang menganggap ini kasus biasa dan tidak ada pelanggaran hukum, apalagi hanya dikatakan sebagai kesalahan dalam kebijakan, pernyataan ini patut dipertanyakan. ..

Sementara itu, Ichsanuddin Noorsy menuturkan, dalam kasus Bank Century paling tidak terdapat empat indikasi tindak pidana yang telah terjadi. Masing-masing, tindak pidana korupsi. Kedua, tindak pidana pencucian uang, tindak pidana perbankan, dan tindak pidana penggelapan.

"Jadi, kasus Bank Century ini penuh unsur tindak pidana korupsi. Kalau kemudian ada yang menganggap ini kasus biasa dan tidak ada pelanggaran hukum, apalagi hanya dikatakan sebagai kesalahan dalam kebijakan, pernyataan ini patut dipertanyakan, " tutur Noorsy. [taz/dari berbagai sumber]

Kenapa Kita Harus Dukung Palestina?

Ngapain sih repot-repot turun kejalan mendukung Palestina, bikin macet jalan doang??! Pake kibar-kibarin bendera mereka lagi....
Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut.

BTW, buat yang kepikir kayak gitu, Semoga info berikut membantu menyadarkan kita (Bangsa besar Indonesia ). Kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan
untuk Palestina dan negara arab lain.
Bangsa Indonesia (Sukarno-Hatta) boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh-tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Berdasarkan sejarah bahwa awal dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini
dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc.

M. Zein sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peran serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia , di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti
besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia :

".., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan 'ucapan selamat' mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan 'pengakuan Jepang' atas kemerdekaan Indonesia . Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian "Al-Ahram" yang terkenal telitinya juga menyiarkan." Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenanmenyambut kedatangan delegasi "Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia " dan
memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi
sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.”

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher.
Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata:
"Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia .."

Bagaimana dengan kita?! Berapa uang kita yang sudah diperuntukan kepada mereka yang dulu telah membantu moyang kita...???

Dukungan Mengalir Setelah Itu

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya , demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur
dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 Juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal "Volendam" milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.

Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah putih –tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal "Volendam" milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali
ke pelabuhan.

Bagaimana rasannya saat melihat bendera kita di kibarkan oleh bangsa lain dengan kesadaran penuh menunjukan rasa solidaritasnya. ..???? Karena mereka peduli

Wartawan 'Al-Balagh' pada
10/8/47 melaporkan:

"Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar "stirman", menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain."

Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita.

Setelah baca cerita ini sayapun tidak memaksa (kalau merasa keberatan) untuk turun kejalan, memberi sumbangan dana atau apalah namannya.

Saya juga belum paham betul duduk permasalah yang begitu ruwet di Palestina. Setidaknya kita diingatkan bahwa kenikmatan kita hari ini, tidak lepas dari bantuan moyang mereka jua......... ....dan saya hanya menegur diri saya sendiri, bahwa
disana (Palestina) sedang ada musibah kemanusiaan. Sebagaimana Indonesia puluhan tahun yang lalu.

Sumber : AR

Anak - Anak Karbitan

Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu...

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana
mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga
persekolahanyang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak
mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri
dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa.. Kursus-kursus kilat
untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran
berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang
puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat
membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa,
hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan
berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut
kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi
kantung orangtua ... Captive market!

Kondisi di atas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila
kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet
dan lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi
anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian
besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan
kesalahan. Di samping ketidakpatutan yang dilakukan oleh orang tua
akibat ketidak tahuannya!

ANAK-ANAK YANG DIGEGAS...

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap
anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan
intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib
dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk
menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan
kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah.

Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan
ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker.
Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra
seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk
Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di
bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai
anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi
kemudian? James Thurber seorang wartawan terkemuka. pada suatu hari
menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William
James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang
banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi
pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, di
mana seorang Ibu yang bernama Aaron Stern telah berhasil melakukan
eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan
kognitif anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu
lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang
bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan bahasa orang
dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan
kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun, Edith
telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun, Edith
telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun, ia
membaca enam buah buku dan koran New York Times setiap harinya. Usia
12 tahun, dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun, ia
menjadi guru matematika di Michigan State University. Aaron Stem
berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas
otak yang sangat tak berhingga. Namun kabar Edith selanjutnya juga
tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih
anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam
kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang
berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil,
mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai
murid yang dungu. Seperti halnya Einstien yang mengalami kesulitan
belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka
melamun.

Selama berpuluh-puluh tahun, orang begitu yakin bahwa keberhasilan
anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang
memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu,
banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan "Early
Childhood Training". Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya.
Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak
mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas
dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak
kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10%
saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam
proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang
di mana-mana, di Indonesia.

"EARLY RIPE, EARLY ROT...!"

Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun
1990 di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan
pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua
merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka
berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan
"peluang emas" bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan
anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-kanak (Pra Sekolah).
Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih
berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya
membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika
sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957.
Mulailah "Era Headstart" merancah dunia pendidikan. Para akademisi
begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak
sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak
tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan
sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome
Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah
buku terkenal "The Process of Education" pada tahun 1990. Ia
menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga.
Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di
Amerika . "We begin with the hypothesis that any subject can be taught
effectively in some intellectually honest way to any child at any
stage of development" .

Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang disalahartikan
oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan
dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat
mereka cepat matang dan cepat busuk. (early ripe, early rot!).

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga
usia SD. Di rumah, para orangtua kemudian juga melakukan hal yang
sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika
Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep
"kesiapan-readiness " dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang
mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang "biological
limititations on learning". Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan
intervensi dini dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar
mereka segera siap belajar apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di
sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi
"miniature orang dewasa ". Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga
bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian
seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi
lain, media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan
musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program
teve yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi
atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentang
dunia seputar orang dewasa sebagai seksual promosi yang menyesatkan.
Pendek kata, media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak
tumbuh kembang secara cepat.

Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak?
Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan
seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu
dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja
anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi
perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat
tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh
mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan
(intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan
sukar, terkait dengan berbagai keadaan, cobalah perhatikan, khususnya
saat perilaku anak menampilkan gaya "kedewasaan ", sementara
perasaannya menangis berteriak sebagai "anak".

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas
seorang anak laki-laki "Heintje" di era tahun 70-an: I'm Nobody'S
Child.

I'M NOBODY'S CHILD
I'm nobody's child
I'm nobody's child
Just like a flower
I'm growing wild
No mommies kisses and no daddy's smile
Nobody's louch me I'm nobody's child.

DAMPAK BERIKUTNYA TERJADI KETIKA ANAK MEMASUKI USIA REMAJA

Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia
memasuki usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan
berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia O'Brien
menamakannya sebagai "The Shrinking of Childhood". "Lu belum tahu ya...
bahwa gue telah melakukan segalanya", begitu pengakuan seorang remaja
pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. "Gue tahu apa itu minuman
keras, drug, dan seks", serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan
bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai
gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua
menjadi cepat mekar, kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak
dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh,
untuk belajar dan untuk berkembang, sebuah proses dalam kehidupannya!

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke
atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan
anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia
lebih mengandalkan tenaga "baby sitter" sebagai pengasuh anak-anaknva.
Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai
"Cinderella Syndrome" yang senang window shopping, ikut arisan, ke
salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis.
Sebagai bentuk ilusi menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.

Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di
lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut
berbagai les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi
cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga
jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di
sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka
kepada baby sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak
mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan
parenting di lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang
tua.

ERA SUPERKIDS

Kecenderungan orangtua menjadikan anaknya "be special" daripada "be
average or normal" sernakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin
anak-anak mereka menjadi "to excel to be the best". Sebetulnya tidak
ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai
mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka
mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa,
renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak
lagi lainnya maka lahirlah anak-anak super "SUPERKIDS". Cost (biaya)
merawat anak superkids ini sangat mahal.
Era superkids berorientasi kepada "Competent Child". Orangtua saling
berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya "earlier is
better". Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam
pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik.
Neil Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan
bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah
ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa
yang ke kanak-kanakan!

BERBAGAI GAYA ORANGTUA

Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan
berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan
"miseducation" terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind
(1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara
lain:

Gourmet Parents (Orang tua Borju)

Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah
bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia,
dengan gaya hidup kebarat-baratan. Apabila menjadi orangtua maka
mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat
karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan
dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak.
Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya
membangun karier, maka "superkids" merupakan bukti dari kehebatan
mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknya
baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam
program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran
mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling
dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah
sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil
terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua "gourmet " atau
kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

College Degree Parents (Orang tua Intelek)

Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang
menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya.
Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya.
Misalnya membantu membuat majalah dinding dan kegiatan ekstra
kurikular lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan
pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur
menjadikan anak-anak mereka "Superkids", apabila si anak
memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga
memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti
bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga
harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat
peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah
anak-anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli
dengan kondisi sekolah.

Gold Medal Parents (Orang tua Mendali Emas)

Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya
menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering
mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada
gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains
yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia. Ada juga gelanggang seni
seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan.
Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih
kemenangan dan menjadi "Seorang Bintang Sejati ". Sejak dini mereka
persiapkan anak-anak mereka menjadi "Sang Juara", mulai dari juara
renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik ketika anak-anak
mereka masih berusia TK.

Sebagai ilustrasi,dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang,
puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu
di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok,
dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta.
Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat
melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat,
membujuk anak-anaknya bersabar. Mengharapkan acara segera di mulai dan
anaknya akan kelular sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara
mengusir panas dengan berkipas kertas.

Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku
ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun
70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK rnengalami kelainan tulang
akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus "bintang cilik"
Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa
kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba
hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang
setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent
menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!

Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik
"Joshua" yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan
orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan
anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal.
Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya
Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak
ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. kemudian
di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum
bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat
membentuk dan menjadikan anaknya seorang "superkid" seorang penyanyi
sekaligus seorang bintang film.

Do-it Yourself Parents (Orang tua Mandiri)

Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami
dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan
professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di
sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok
ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu
mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu, kelompok ini
juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya "Superkids earlier is
better".

Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai
lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan
atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok
penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

Outward Bound Parents (Orang tua Paranoid)

Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang
dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan
mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh
dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan
marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih
memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran
yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini
secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep
"Superkids". Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang
hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam
marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari
bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya "Karate, Yudo, pencak Silat"
sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik
anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya
di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi
yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak.
Akibatnya anak-anak mereka menjadi "steril" dengan lingkungannya.

Prodigy Parents (Orang tua Instan)

Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak
memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, narnun tidak
berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia
bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang
sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan
menumpulkan kemampuan anak-anaknya.

Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan
hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti
apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka
sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak
tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka
sukai. Misalnya buku tentang "Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca"
karangan Glenn Doman , atau "Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika"
karangan Siegfried, "Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang" karangan
Therese Engelmann, dan "Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam
Waktu 9 Hari" karangan Sidney Ledson.

Encounter Group Parents (Orang tua Pengerumpi)

Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan.
Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau
terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang
mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam
perkawinannya.

Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship
dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok
ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-anak dengan
berbagai perilaku "gang ngrumpi" yang terkadang mengabaikan anak.
Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga
mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka
memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan
kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk
memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka
sebagai "Superkids" juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak
anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang
diharapkan.

Milk and Cookies Parents (Orang tua Ideal)

Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa
kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang
sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan
menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan
mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan.

Kelompok ini tidak berpeluang menjadi oraugtua yang melakukan
"miseducation" dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mereka
memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh
perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.

Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan
musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang
makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi
anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak
mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah.
Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada
anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar.

Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya
dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak
membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri
keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain, mereka percaya bahwa
anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Bagi
mereka, setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan
kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!

Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih
kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti
daripada kenangan indah; terutama kenangan manis di masa kanak-kanak.
Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang
indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu
pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan
indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan
terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang
tersiampan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan
satu hari untuk keselamatan kita" (destoyevsky' s brothers karamoz)

PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK

Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak
didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah
berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah
terlihat sebagai sebuah "industri" dengan tawaran-tawaran menarik yang
mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas
unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk
hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai "Operator
kurikulum" dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena
rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang
mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat
menjadi "pengabar isi buku pelajaran" ketimbang menjalankan fungsi
edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu,
sekolah akan menggunakan "mesin-mesin dalam menskor" capaian prestasi
yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan
mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani
pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau
melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak.

Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan
organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika
mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di
pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal
kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran? Tumpulnya rasa dalam
mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan
dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak
menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan
yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam
kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam
kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk
sekolah? dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk.

Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah
untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan
cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo
Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan "pedagogy of the
oppressed" terhadap anak-anak didiknya. Di mana guru mengajar, anak
diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru
berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan,
guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan
pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya
membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan
anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah
objek dari proses pembelajaran (Freire,1993) . Model pembelajaran
banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan
terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking
wilayah.

MENGKOMPETENSI ANAK MERUPAKAN "KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN"

"Anak adalah anugrah Tuhan sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi
citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang
bertanggungjawab"

(Nature versus Nurture)

Bagaimana?

Karena ada dua pengertian kompetensi. Kompetensi yang datang dari
kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau
kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri.

Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John
Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat
ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita; sebagai komponen sentral
dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka
mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut :

"Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special
world to bring them up in, and I'll guarantee you to take any one at
random and train him to become any type of specialist I might select ---
doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief
regardless of this talents, penchants, tendencies, vocations, and race
of his ancestors "

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan "intervensi
dini" setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada
anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut
New Jersey pada tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian
program tes untuk mengukur "Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic
Skill)" dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari
pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger
kepada New York Times sebagai berikut : "The improvement in those
areas were not the result of any magic program or any singular
teaching strategy, they were.... simply proof that accountability is
crucial and that, in the past five years, it has paid off in New
Yersey"

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti
Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang
diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami
keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas
rendah. Semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini
sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompeten si perolehan
pengetahuan hanya secara kognitif.

Oleh karena hingga hari ini, sekolah belum mampu menjawab dan dapat
menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran.
Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti
emosi, sosial, kognitif fisik, dan moral belum dapat dikemas dalam
pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan
sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang
dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk
dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja!.
Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang
berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus
menerus merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali
tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya.
Perilaku keingintahuan "curiosity" inilah yang banyak tercabut dalam
sistem persekolahan kita.

AKADEMIK BUKANLAH KEBUTUHAN DARI SEBUAH PENDIDIKAN! "EMPTY SACKS WILL
NEVER STAND UPRIGHT"(GEORGE ELIOT).

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif
melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan
membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang
dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati
dan pisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup
mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik
akademik dan pendidik sanubari "karakter". Di mana mereka mendidik
anak menjadi "good and smart" terang hati dan pikiran.

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan "how learn to learn" pada
anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada
anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi,
dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka
hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina
dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan
berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya
berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison
mengatakan bahwa "genius is 1 percent inspiration and 99 percent
perspiration ".

Semangat belajar "encourage" tidak dapat muncul tiba-tiba di diri
anak. Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan
belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya
yang tidak mencintai mereka sebagai anak. Selanjutnya misi sekolah
lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan "moral litermy"
melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja
tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah
pendidikan (Martin Luther King, Jr ). Inilah keharmonisan dari
pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan,
antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna
dengan perbuatan yang baik.

PENUTUP

Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia
yang terang hati dan terang pikiran "good and smart" merupakan tugas
kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja
keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan
masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada
sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak
sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak.
Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung
memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini
kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi "SUPERKIDS". Inilah
fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari
lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak
karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa
yang ke kanak-kanakan. []

Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD
Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut
Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage
Foundation.