Komputer tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari masa kini. Bekerja, mencari hiburan, atau melakukan aktivitas sosial cukup bergantung dengan penggunaan komputer. Kecenderungan ini mengakibatkan naiknya penggunaan dan biaya untuk energi tiap tahunnya.
Menyambut Hari Bumi yang akan digelar pada 22 April 2011 ini, APC by Schneider Electric memberikan tips dalam menggunakan komputer secara efisien untuk menghemat biaya, memperpanjang usia perangkat komputer dan sekaligus membantu menyelamatkan bumi.
• Matikan komputer di malam hari sehingga komputer hanya digunakan selama 8 jam – untuk menghemat penggunaan energi hingga 810kWh per tahun dan 67 persen penggunaan.
• Sambungkan komputer ke surge protector dengan master control outlet, sehingga sistem secara otomatis dapat mengetahui saat komputer tidak digunakan untuk kemudian memutus sambungan listrik ke komputer dan perlengkapannya.
• Gunakan monitor LCD karena menggunakan lebih sedikit energi dan tidak membuat mata bekerja lebih keras seperti pada CRT.
• Beli komputer yang dilengkapi fitur Energy Star. Sebagai catatan, laptop juga menggunakan lebih sedikit energi dibandingkan desktop.
• Rencanakan penggunaan komputer sehingga semua kegiatan dapat diselesaikan dalam satu waktu, dan matikan saat tidak lagi digunakan.
• Pertimbangkan menggunakan monitor yang lebih kecil. Monitor berukuran 14 inci menggunakan 40 persen energi lebih rendah dibandingkan dengan monitor 17 inci.
• Aktifkan mode standby/sleep dan pengaturan penggunaan energi.
• Lupakan screen saver karena ia tidak menghemat energi kecuali kalau Anda masih menggunakan monitor monochrome versi lawas.
• Lihat ulang rancangan dokumen dan email di layar daripada mencetaknya.
• Matikan monitor saat tidak digunakan dari pada menggunakan screen saver.
• Pertimbangkan untuk menggunakan printer ink-jet – walaupun lebih lambat dari pada menggunakan printer laser, tapi inkjet menggunakan 80-90 persen energi lebih sedikit.
• Belilah produk tinta yang berbahan dasar dari tumbuhan atau non-minyak – karena produk tersebut dibuat dari sumber yang didaur ulang, membutuhkan lebih sedikit penggunaan materi berbahaya dan menghasilkan warna yang lebih terang dan jernih.
• Matikan printer dan semua perangkat pelengkap lainnya apabila tidak digunakan.
• Jangan biarkan komputer tetap menyala pada malam hari atau pada akhir pekan.
• Pilihlah warna yang gelap sebagai latar belakang tampilan layar, karena tampilan warna terang menggunakan lebih banyak energi.
• Kurangi tingkat pencahayaan ruangan pada saat bekerja menggunakan komputer.
• Gunakan jaringan dan berbagi printer apabila memungkinkan.
• Cetaklah dengan menggunakan kertas daur ulang. Gunakan kertas yang tidak menggunakan klorin dengan 50 hingga 100 persen post-consumer waste.
• Cetak di dua sisi kertas.
• Komunikasi melalui email sebagai alternatif pengganti memo dan fax.
Saat ini, terjadi kesalahan persepsi atau mitos penggunaan komputer yang sering terjadi pada penggunaan sehari-hari, termasuk salah satunya adalah anjuran untuk tidak mematikan komputer.
Sebenarnya, komputer dirancang untuk menghadapi 40.000 kali siklus on/off, dan apabila komputer digunakan secara normal maka komputer dapat berusia dari lima hingga tujuh tahun. Sehingga dengan mematikan komputer, kita tidak hanya mengurangi penggunaan energi, tetapi juga mengurangi heat stress pada komputer.
Anggapan kedua yang banyak beredar mengatakan bahwa dengan mematikan dan kembali menyalakan komputer akan lebih banyak menggunakan energi daripada meninggalkannya dalam keadaan menyala. Pada kenyataannya, penggunaan energi yang digunakan CPU untuk melakukan boot up jauh lebih sedikit dibandingkan dengan meninggalkan komputer menyala lebih dari tiga menit.
Selain itu, anggapan bahwa koneksi jaringan akan terputus pada saat komputer dalam kondisi low-power/sleep mode juga tidak benar. Komputer terbaru dirancang agar tidak mengalami kehilangan koneksi atau data meskipun dalam keadaan sleep mode. CPU yang dilengkapi dengan teknologi Wake on LAN (WOL) dapat ditinggalkan dalam keadaan sleep mode semalaman dan keesokan harinya pengguna telah menerima data yang dikirim. (sj)
Tips Penggunaan PC Agar Ramah Lingkungan
Sungai paling beracun di dunia
Jadi berikut daftar yang mungkin bisa memotivasi kita untuk ikut membantu menjaga lingkungan kita.
Sungai yang paling "beracun" di dunia:
1. Citarum River, Indonesia
Dikenal sebagai sungai yang paling terkontaminasi di dunia. Sekitar 5 juta orang hidup disepanjang sungai ini dan kebanyakan dari mereka bergantung pada sungai ini untuk kebutuhan sehari2.
2. Chernobyl, Ukraine
Chernobyl adalah kota di utara Ukraina tempat terjadinya the Chernobyl disaster tahun 1986, nuklir plant terburuk dalam sejarah. Tadinya menjadi rumah bagi 14.000 kepala rumah tangga, namun skrg menjadi tidak berpenghuni dan tidak aman karena masih tingginya kadar radiasi yang tertinggal.
3. Linfen, China
Linfen merupakan kota yang memiliki polusi udara tertinggi dibanding kota manapun. Bertempat di jantung pertambangan di China, sekaligus tempat berkumpulnya polusi dari berbagai pabrik, maka udara di kota ini selalu gelap. Ketika Anda menggantung cucian di luar, maka sebelum kering, cucian Anda sudah berubah warna menjadi hitam.has more air pollution than any other city in the world.
4. Yamuna River, India
Yamuna adalah anak sungai terbesar dari sungai Gangga. Melintasi kota Delhi, diperkirakan 58% dari limbah kota dibuang ke sungai ini. Namun jutaan penduduk masih terus bergantung pada sungai yang suram dan kotor ini untuk mencuci, membuang kotoran dan minum.
5. La Oroya, Peru
Lo Oroya adalah kota tambang berselimutkan jelaga di Pegunungan Andes. 99% dari anak yang tinggal disini darahnya sudah diracuni oleh timah. Ini merupakan "kontribusi" dari sebuah perusahaan Amerika yang bergerak dlm bidang pencairan timah sejak 1922 yang dibangun disana.
6. Kabwe, Zambia
Timah dan kadmium "merendam" bukit2 di Kabwe setelah adanya pertambangan selama berabad2 disana. Anak2 disini memiliki kadar timah antara 5- 10 kali kadar yg dibolehkan oleh U.S environmental protection agency. Tanah disana pun sudah terkontaminasi sampai apapun tidak bisa tumbuh
Kalau Makan Secukupnya dan Habiskan
KOMPAS.com — Untuk urusan porsi makan, kadang-kadang sebagian dari kita tak terlalu memerhatikan. Asal ciduk nasi dan lauk atau memesan fast food lewat layanan pesan antar mungkin sudah jadi kebiasaan. Alhasil, keranjang sampah rumah pun penuh dengan bahan-bahan yang sebenarnya tak perlu dibuang.
"Orang kadang biasa makan berlebihan. Pesan makanan tetapi tidak menghabiskannya. Itu mulai saus sampai makanannya kadang terbuang sia-sia. Kadang orang dengan gaya hidupnya tidak berpikir tentang hal ini," kata Nursalam, pengelola Kedai Daur Ulang Pak Salam, di Mampang, Jakarta Selatan, saat ditemui Kompas.com belum lama ini.
Ia mengatakan, kalau makanan sampai dibuang-buang, itu akan akan menambah jumlah sampah. Sampah makanan memang tergolong sampah organik, tetapi dengan gaya hidup orang yang tak peduli sampah, sisa makanan ini akhirnya menumpuk di tempat pembuangan akhir sampah.
"Makanya, sekarang makan yang cukup saja, jangan berlebihan agar sampah juga tak berlebihan," ujarnya. Memulai dengan hal kecil seperti mengatur porsi makan, menurut Nursalam, bisa menyumbang persentase lumayan dalam pengurangan akumulasi sampah.
Selanjutnya Nursalam mengatakan, akan sangat bagus jika warga bisa mengelola sampah organik, termasuk sisa makanan, sehingga bisa menjadi bisnis dengan investasi dari pemerintah atau swasta. Sampah yang semula tak berharga bisa jadi berguna. Sampah organik dapat diolah, misalnya, menjadi kompos. Sementara sampah anorganik sebagian bisa didaur ulang.
"Green Finance" Solusi Perubahan Iklim
JAKARTA, KOMPAS.com - Konsep green finance atau pengucuran modal dengan menggunakan prinsip ramah lingkungan bisa menjadi solusi dari sektor finansial untuk mengatasi dampak perubahan iklim global.
"Ada dua ancaman serius, yaitu masalah penggunaan energi dan lingkungan hidup yang bisa diatasi dengan green finance," kata Special Advisor Head Environment Finance Japan Bank for International Cooperation (JBIC) Takashi Hongo dalam diskusi yang digelar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) di Jakarta, Kamis (28/1/2011).
Namun, menurut Hongo, untuk menerapkan konsep green finance secara nyata dibutuhkan tekad dari badan finansial, baik swasta maupun pemerintah, untuk mengeluarkan investasi dalam jumlah yang besar. Selain itu, penerapan green finance membutuhkan kemajuan teknologi yang dapat mengurangi dampak perubahan iklim.
Ia mencontohkan, sejumlah nelayan di Jepang beberapa tahun lalu memutuskan untuk menggunakan teknologi LED (light emitting diode) akibat mahalnya harga bahan bakar yang biasa dipakai untuk melaut.
Hongo memaparkan, pada awalnya memang dibutuhkan biaya yang besar untuk membeli dan melengkapi kapal penangkap ikan dengan LED, tetapi setelah digunakan mereka dapat menghemat biaya operasional. "Mereka (para nelayan) meminjam uang dari bank," katanya.
Untuk itu, menurut dia, pembiayaan dan dorongan untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan merupakan kunci yang dibutuhkan dalam penerapan green finance.
Sementara itu, pembicara lainnya, Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya, Suseno Sukoyono mengatakan, sebenarnya terdapat banyak peluang bisnis atau finansial yang dapat dikembangkan akibat perubahan iklim, termasuk salah satunya green finance.
Apalagi, ujar dia, Indonesia sebenarnya bukanlah merupakan penyumbang emisi terbesar tetapi perubahan iklim telah mengakibatkan sejumlah masalah seperti kenaikan suhu dan naiknya permukaan air laut yang tampak seperti fenomena rob yang akhir-akhir ini kerap terjadi di kawasan Muara Baru, Jakarta Utara.
"Indonesia menghasilkan 1,7 emisi per kapita, sedangkan Amerika Serikat 20,6 dan Australia 16,2," katanya.
Ia juga mengingatkan, krisis energi seperti kenaikan harga minyak yang kini telah mencapai sekitar 100 dolar AS seharusnya juga bisa menjadikan salah satu aspek untuk mendorong penerapan green finance.
Ketua MPN Muhammad Taufiq mengharapkan terbangun jaringan baik di dalam maupun luar negeri atau organisasi internasional dalam menciptakan sumber peluang pembangunan berkelanjutan melalui green finance.
"Skema pendanaan green finance dengan dilandasi lingkungan investasi yang kondusif dengan memasukkan aspek perubahan iklim menjadi salah satu solusi penting dalam membangun Indonesia secara berkelanjutan," katanya.
Berdasarkan data MPN, terdapat potensi total ekonomi kelautan Indonesia yang mencapai 800 miliar dolar AS per tahun yang belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan antara lain karena kendala biaya.
Bahayanya Plastik
1) Ribuan penyu, paus dan mamalia laut lainnya mati karena memakan sampah plastic, yang disangkanya sebagai ubur – ubur.
2) Sampah plastic kebanyakan tidak terurai, ataupun jika dapat terurai butuh waktu yang lama sekali. Plastik yang terbuat dari bahan dasar minyak bumi, mulai dari pembuatannya menyebabkan timbulnya gas karbon yang menyumbang emisi.
3) Sekitar 60 – 80 persen sampah yang ada di laut adalah sampah plastic. Setiap 1 km2 wilayah laut terdapat 13.000 – 18.000 sampah plastic. Kandungan bahan kimia yang ada di plastic mencemari laut dan menyebabkan ribuan satwa laut mati.
4) Kandungan bahan kimia yang sering ditemukan di plastic ada 3 macam yaitu Phatalates, bispenol A dan Polybrominated diphenyl ethers. Ketiga bahan kimia tersebut sering dikaitkan dengan cacat bawaan pada janin, kanker, kerusakan hati dan gangguan reproduksi.
Beberapa Negara dan kota – kota di berbagai penjuru dunia telah berinisiatif untuk mengurangi sampah plastic, diantaranya adalah :
1) Bangladesh, Bhutan, Cina melarang pemakaian plastic di pasar swalayan.
2) Di Jerman, apabila anda ingin menggunakan plastic untuk membungkus barang di supermarket, anda dikenakan biaya.
3) Irlandia memperkenalkan “pajak plastic”. Hasilnya penggunaan plastic sebagai pembungkus menurun sampai dengan 90 %. Kota New York dan Seattle juga mulai menerapkan peraturan sejenis.
4) Marks and Spencer, perusahaan terkenal dari Inggris mengenakan charge 5 poundsterling kepada pelanggan yang meminta plastic pembungkus.
5) Sampah plastic dilarang di 30 kota di Negara bagian Alaska, AS.
6) Kota Portland, yang terletak di Negara bagian Oregon juga melarang penggunaan plastic sebagai pembungkus.
Gimana dengan Indonesia ? Sejauh ini belum ada langkah konkret untuk mengatur penggunaan plastic ini.
Jadi apa yang dapat kita lakukan? Mulailah dari diri sendiri untuk menghindari penggunaan plastic sebagai pembungkus adalah hal yang baik.
sumber : DD
10 Things a Company Can Do to Support Earth Hour

On March 28, 2009 at 8:30 pm, tens of millions of people around the world will turn out their lights for one hour — Earth Hour—to demonstrate their concern for our living planet and send a loud
message to our leaders that they support action on climate change. Here are a few ideas for ways your organisation can support and publicise Earth Hour:
1. Hold a contest among employees with a prize for the best ideas for
reducing waste and cutting energy consumption in your company’s
daily operations.
2. Ask your business partners, suppliers and industry peers to support
Earth Hour. Hang banners and posters so that your support is visible
to all who enter your offices or buildings.
3. Turn your website “go black” during the week leading up to Earth
Hour; make all white backgrounds black and all black text white.
(Google did this in 2008!) Post a blurb about the event on your
homepage that links to the Earth Hour home page.
4. Hold a company-wide event or celebration for employees the week
proceeding Earth Hour and serve “green-themed” refreshments.
Host an Earth Hour “lights out” party for your staff, customers and vendors on the night of the event. Be
sure to turn out at 8:30 pm local time.
5. Schedule a meeting or send an email to employees from the Chairman or CEO explaining why the company
is supporting Earth Hour and urge them to “turn out” at home. The entire executive team, including the
CEO, should pledge to participate as well.
6. Create an Earth Hour section on the company intranet where employees can post ideas for celebrating
Earth Hour and photos following up the event.
7. Hold employee contests with awards going to the staff member who recruits the most people to sign a
pledge to say they will participate or who comes up with the most creative promotional idea for Earth
Hour.
8. Ask the company cafeteria to hold a special candlelight lunch the week of Earth Hour, featuring dishes
prepared using organic and sustainably products to remind employees about the event.
9. Create special TV, radio and newspaper ads to showcase your company’s participation in Earth Hour and
to urge others to join.
10. Issue a news release and contact news media and radio stations and tell them what your company is doing
to support Earth Hour and why.
Beting Es Antartika Pecah
JAKARTA, SENIN - Satelit Envisat milik badan antriksa Eropa merekam pecahnya beting es Antartika di Kutub Selatan akhir Mei lalu. Ini adalah rekaman peristiwa kedua tahun ini dan rekaman pertama pecahnya lapisan es dalam ukuran besar di musim dingin.
Retakan terjadi antara 30-31 Mei 2008 di beting es Wilkins yang menghubungkan pulau es Charcot dan Latedy. Wilkins adalah pulau es raksasa di kawasan Semenanjung Antaryika yang berada di sebelah selatan Amerika Selatan. Luas es yang pecah di kawasan tersebut mencapai 160 kilometer persegi.
Lus es yang pecah kali ini masih lebih kecil daripada peristiwa sebelumnya, yang terjadi pada Februari 2008 dan seluas 400 kilometer persegi. Namun, kejadian kali ini mengejutkan karena terjadi di musim dingin. Selain itu, para ilmuwan yang memonitor khawatir kejadian tersebut masih belum berhenti.
"Lapisan yang tersisa melengkung di bagian permukaannya sehingga ada kemungkinan pecah lagi dalam beberapa hari ke depan," demikian pernyataan Matthias Braun dari Universitas Bonn dan Angelika Humbert dari Universitas Munster Jerman. Pemantauan tersebut merupakan bagian dari program global antarnegara bernama International Polar Year (IPY) 2007-2008.
Semenanjung Antartika menghadapi kenaikan suhu paling tinggi dibandingkan kawasan lain di Kutub Selatan. Dalam 50 tahun terakhir, suhu rata-rata di kawasan tersebut naik 2,5 derajat Celcius.
Sebagai dampaknya, tujuh beting es di kawasan tersebut telah pecah sepanjang 20 tahun terakhir. Peristiwa terbesar terjadi tahun 2002 pada beting es Larsen B dan pecahannya mengapung ke lautan lepas.
Satu Konsumen Satu Pohon
Program ini diberi nama "Plant-A-Tree With WebEx". Untuk setiap percobaan layanan WebEx yang diberikan cuma-cuma antara 21 April hingga 31 Mei 2008, WebEx akan menanam sebuah pohon. Selain itu, untuk setiap 100 percobaan gratis, WebEx juga akan menanam 100 pohon tambahan. Program yang sudah dilaksanakan sejak April 2006 ini akan membantu mengurangi emisi karbon global.
Untuk membantu menanam sebuah pohon, cukup kunjungi www.webex.com/go/zerocarbon, mendaftar untuk sebuah percobaan gratis WebEx Meeting Center, lakukan dua pertemuan bisnis secara online, dan WebEx akan menanam sebuah pohon dalam nama anda melalui Carbonfund.org. Ribuan pohon saat ini sudah tertanam melalui program ini.
"Program ini hanyalah satu aspek dari upaya-upaya kami untuk mendorong perusahaan-perusahaan untuk lebih mengefisienkan pemakaian daya mereka, supaya menjadi lebih “hijau” dan lebih produktif,” kata Joe Schwarts, Direktur Operasional Marketing, Cisco WebEx. "Di Hari Bumi ini, kami berharap semua orang akan menjawab tantangan ini dan memanfaatkan peluang untuk membantu lingkungan."
Layanan WebEx secara tidak langsung tidak hanya alternatif bagi para pelaku usaha dan profesional untuk tetap produktif di mana saja, namun juga menekan buangan karbon. Perjalanan bisnis merupakan kontributor utama emisi karbon dioksida yang berbahaya. Seseorang yang terbang 30.000 mil per tahun membuang lebih dari 10 ton karbon dioksida ke atmosfir. Mengganti sebagian kecil perjalanan bisnis dengan pertemuan web bisa secara dramatis mengurangi emisi karbon dioksida.
Sebagai gambaran, menggunakan WebEx sebagai pengganti perjalanan satu orang dari New York ke London untuk sebuah pertemuan akan mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 1,3 ton. Menggunakan rapat online sebagi pengganti perjalanan dua orang dari Chicago ke San Francisco untuk sebuah presentasi penjualan akan mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 2,3 ton. Menggunakan chat video untuk sebuah sesi pelatihan 12 orang yang tadinya harus terbang dari Dallas ke San Francisco akan mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 11 ton.
"Menjadi hijau bagi Cisco bukanlah untuk mengikuti tren, tapi untuk mengubah cara perusahaan ini melakukan bisnisnya. Dari rancangan produk, pengelolaan rantai persediaan hingga pengelolaan fasilitas-fasilitas kami, Cisco merekayasa ulang dirinya sendiri untuk meminimalkan pengaruh kami terhadap sumber-sumber daya bumi," kata Irfan Setiaputra, Managing Director, Cisco Systems Indonesia. Dengan berinvestasi dalam teknologi-teknologi kolaborasi di dalam Cisco dan mendorong para karyawannya untuk melakukan lebih sedikit perjalanan, Cisco berusaha mengurangi emisi karbon dari perjalanan udara sebesar 10 persen dan untuk meningkatkan produktivitas keseluruhan dari tenaga kerjanya.
Bersikap Go Green
Upaya mencegah dampak pemanasan global menjadi kewajiban siapa saja sebagai penghuni Bumi.
2) Langkah nyata dari setiap masyarakat untuk turut dapat berpartisipasi di dalam kegiatan apapun, baik itu besar maupun kecil, bahkan di kehidupan sehari-hari di rumah dan di kantor kita juga dapat menjaga dan merawat bumi ini dari kepunahan. Banyak yang dapat kita lakukan, seperti mematikan lampu jika tidak perlu, hemat air, hemat kertas (mencetak bolak balik), pakai produk-produk daur-ulang dan elektronik yang ramah lingkungan, dan masih banyak hal sepele lainnya namun sangat besar artinya bagi keselamatan bumi. Jika kita tidak memulainya dari dalam diri kita sendiri, siapa lagi yang akan memulai?